Skip to main content

Vulnerability Assessment dan Security Testing

  • Durasi: 1 Pertemuan (3 x 50 menit)
  • Tingkat: Menengah–Lanjut

A. Capaian Pembelajaran

Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan konsep vulnerability assessment dan security testing.
  2. Mengidentifikasi kerentanan pada sistem dan layanan jaringan.
  3. Melakukan vulnerability scanning secara terkontrol pada lingkungan laboratorium.
  4. Menganalisis hasil pemindaian keamanan.
  5. Membedakan antara vulnerability, threat, risk, dan exploit.
  6. Melakukan pengujian keamanan sederhana terhadap aplikasi web.
  7. Menentukan tingkat risiko berdasarkan hasil pengujian.
  8. Menyusun rekomendasi mitigasi terhadap kerentanan yang ditemukan.
  9. Mendokumentasikan hasil security assessment secara sistematis.

B. Tujuan Praktikum

Setelah mengikuti praktikum, mahasiswa mampu:

  1. Menentukan target dan ruang lingkup pengujian keamanan.
  2. Melakukan identifikasi host dan layanan yang aktif.
  3. Melakukan vulnerability scanning menggunakan tools yang tersedia.
  4. Mengidentifikasi potensi kerentanan pada sistem.
  5. Melakukan pengujian keamanan terhadap DVWA.
  6. Menganalisis hubungan antara hasil assessment dengan risiko keamanan.
  7. Menyusun rekomendasi perbaikan.
  8. Membuat laporan security assessment.

C. Dasar Teori

1. Vulnerability Assessment

Vulnerability Assessment adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menilai kelemahan keamanan pada sistem, jaringan, aplikasi, atau layanan.

Secara sederhana:

Vulnerability Assessment = mencari dan menilai kelemahan keamanan.

Contoh kerentanan:

  • layanan menggunakan versi perangkat lunak yang rentan;
  • port yang tidak diperlukan terbuka;
  • konfigurasi sistem yang tidak aman;
  • password policy yang lemah;
  • aplikasi web memiliki celah SQL Injection;
  • aplikasi memiliki celah Cross-Site Scripting;
  • direktori atau file dapat diakses tanpa autentikasi.

2. Security Testing

Security Testing merupakan proses pengujian untuk mengetahui apakah mekanisme keamanan suatu sistem mampu menghadapi kondisi atau serangan tertentu.

Contohnya:

  • pengujian autentikasi;
  • pengujian otorisasi;
  • pengujian input validation;
  • pengujian SQL Injection;
  • pengujian XSS;
  • pengujian konfigurasi keamanan;
  • pengujian terhadap layanan jaringan.

Dalam praktikum ini, pengujian hanya dilakukan terhadap sistem yang berada di lingkungan laboratorium dan telah mendapatkan izin.


3. Vulnerability, Threat, Risk, dan Exploit

Keempat istilah berikut perlu dibedakan.

  1. Vulnerability

    Kelemahan pada sistem yang dapat dimanfaatkan untuk mengganggu keamanan.

  2. Threat

    Potensi ancaman yang dapat memanfaatkan suatu kerentanan.

  3. Exploit

    Teknik atau kode yang digunakan untuk memanfaatkan suatu kerentanan.

  4. Risk

    Kemungkinan dan dampak yang dapat terjadi akibat adanya kerentanan.

Hubungan sederhananya:

Vulnerability → dapat dimanfaatkan oleh Threat → menggunakan Exploit → menghasilkan Risk


4. Vulnerability Scanning

Vulnerability scanning menggunakan perangkat lunak untuk melakukan pemeriksaan otomatis terhadap sistem.

Scanner dapat mencari:

  • port terbuka;
  • service yang aktif;
  • versi perangkat lunak;
  • konfigurasi yang tidak aman;
  • vulnerability yang telah diketahui;
  • informasi sistem yang dapat meningkatkan risiko.

Hasil scanner tetap harus dianalisis oleh manusia karena hasil pemindaian dapat mengandung:

  • false positive;
  • informasi yang tidak relevan;
  • kerentanan yang sudah dimitigasi;
  • kerentanan yang membutuhkan verifikasi manual.

5. Port dan Service

Sistem jaringan dapat menyediakan berbagai layanan melalui port tertentu.

Contoh:

PortServiceFungsi
22SSHRemote administration
80HTTPWeb
443HTTPSSecure Web
3306MySQLDatabase
8080HTTP AlternateWeb application

Port terbuka tidak selalu berarti sistem memiliki vulnerability. Namun, semakin banyak layanan yang terbuka, semakin besar pula attack surface yang harus diamankan.


6. CVE dan CVSS

CVE (Common Vulnerabilities and Exposures) merupakan sistem penamaan vulnerability yang telah diketahui.

Contoh format:

CVE-YYYY-NNNN

CVSS (Common Vulnerability Scoring System) digunakan untuk membantu menilai tingkat keparahan suatu vulnerability.

Secara umum, skor CVSS dikategorikan menjadi:

  • None
  • Low
  • Medium
  • High
  • Critical

Dalam praktikum, mahasiswa tidak hanya mencatat skor, tetapi juga harus memahami dampak vulnerability terhadap sistem yang diuji.


7. Attack Surface

Attack surface adalah keseluruhan titik yang dapat menjadi jalur masuk atau dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berwenang.

Contohnya:

  • port jaringan;
  • service;
  • web application;
  • API;
  • akun pengguna;
  • file;
  • konfigurasi;
  • perangkat lunak yang tidak diperbarui.

Tujuan security hardening pada Praktikum 3 salah satunya adalah mengurangi attack surface.


8. Etika Security Testing

Security testing harus dilakukan dengan:

  1. Target yang jelas.
  2. Scope yang jelas.
  3. Izin yang jelas.
  4. Metode pengujian yang sesuai.
  5. Dokumentasi aktivitas.
  6. Tidak merusak sistem.
  7. Tidak mengakses data yang tidak diperlukan.

Dalam praktikum ini:

Dilarang melakukan scanning atau penetration testing terhadap sistem di luar jaringan laboratorium.


D. Peralatan dan Software

1. Perangkat

  • Windows Host.
  • Ubuntu Server VM.
  • Kali Linux VM.
  • Jaringan Host-Only VirtualBox.

2. Software

Pada Ubuntu Server

  • Docker
  • Docker Compose
  • SafeLine
  • DVWA
  • OpenSSH
  • UFW
  • Wazuh

Pada Kali Linux

  • Nmap
  • Nikto
  • Browser
  • Tools keamanan lain yang tersedia pada Kali Linux

E. Topologi Praktikum

Rangkaian cyber range yang digunakan:

Internet

VirtualBox NAT Network

┌──────────────────┴──────────────────┐
│ │
Ubuntu Server Kali
192.168.56.10 192.168.56.20
│ │
└──────────────────┬──────────────────┘

VirtualBox Host-Only Network

Windows Host
192.168.56.1

Kali Linux berperan sebagai security testing machine, sedangkan Ubuntu Server menjadi target environment.


F. Persiapan Praktikum

Pastikan:

1. Ubuntu Server aktif

ip addr

Catat IP address Ubuntu Server.

Contoh:

192.168.56.10

2. Kali Linux aktif

ip addr

Contoh:

192.168.56.20

Pastikan kedua mesin dapat berkomunikasi.

Dari Kali:

ping 192.168.56.10

3. Periksa Docker

Pada Ubuntu:

docker ps

Pastikan container yang diperlukan berjalan.

4. Periksa SafeLine dan DVWA

Akses DVWA melalui browser menggunakan alamat yang telah dikonfigurasi pada Praktikum 4.

Pastikan aplikasi dapat diakses melalui SafeLine.

5. Periksa Wazuh

Pastikan Wazuh masih dapat menerima dan menampilkan event dari sistem yang telah dikonfigurasi pada Praktikum 5–6.


G. Langkah Praktikum

1. Menentukan Scope Assessment

Sebelum melakukan scanning, mahasiswa harus menentukan:

ParameterNilai
TargetUbuntu Server
IP Target................
TesterKali Linux
IP Tester................
NetworkHost-Only
ScopeLaboratorium
ToolsNmap, Nikto, Browser
Waktu Pengujian................

Pertanyaan

  1. Mengapa scope perlu ditentukan sebelum security testing?
  2. Apa risiko melakukan scanning terhadap sistem yang tidak memiliki izin?
  3. Mengapa security testing di laboratorium sebaiknya menggunakan jaringan terisolasi?

2. Network Discovery

Gunakan Nmap untuk mengetahui host yang aktif.

nmap -sn 192.168.56.0/24

Catat host yang ditemukan.

Contoh:

192.168.56.10

Tugas

Buat tabel:

IP AddressStatusKeterangan
192.168.56.10UpUbuntu Server
...............................

3. Port Scanning

Lakukan pemeriksaan port terhadap Ubuntu Server.

nmap 192.168.56.10

Kemudian lakukan deteksi service:

nmap -sV 192.168.56.10

Perhatikan:

  • port;
  • state;
  • service;
  • version.

Catat hasil:

PortStateServiceVersion
22openssh........
80openhttp........
................

Analisis

  1. Port apa saja yang terbuka?
  2. Service apa yang berjalan?
  3. Apakah semua port tersebut diperlukan?
  4. Apa risiko jika service yang tidak diperlukan tetap terbuka?

4. Security Enumeration

Gunakan informasi hasil Nmap untuk melakukan identifikasi lebih lanjut terhadap service.

Contoh:

nmap -sV -sC 192.168.56.10

Amati informasi yang diberikan Nmap.

Catat:

  • service;
  • versi;
  • informasi tambahan;
  • kemungkinan konfigurasi yang perlu diperiksa.

Gunakan hanya pada IP Ubuntu Server dalam jaringan praktikum.


5. Vulnerability Scanning dengan Nikto

Nikto dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap web server.

Jika DVWA diakses melalui HTTP pada target:

nikto -h http://192.168.56.10

Sesuaikan URL dengan konfigurasi SafeLine/DVWA pada laboratorium.

Catat hasil yang diperoleh.

Contoh tabel:

TemuanURL/PortRisikoKeterangan
................Low........
................Medium........
................High........

Pertanyaan

  1. Apa fungsi Nikto?
  2. Apakah semua hasil Nikto merupakan vulnerability yang pasti dapat dieksploitasi?
  3. Apa yang dimaksud dengan false positive?
  4. Mengapa hasil scanner perlu diverifikasi?

6. Security Testing pada DVWA

DVWA digunakan sebagai aplikasi target yang memang dirancang untuk pembelajaran keamanan web.

Lakukan pengujian terhadap vulnerability yang telah dipelajari pada Praktikum 4.

Contoh:

  • SQL Injection
  • Cross-Site Scripting (XSS)
  • Directory Traversal

Gunakan level keamanan DVWA sesuai instruksi dosen.

Dokumentasi

Untuk setiap pengujian, catat:

ParameterKeterangan
Vulnerability........
Target........
Metode pengujian........
Hasil........
BuktiScreenshot
Risiko........
Mitigasi........

Pertanyaan

  1. Mengapa DVWA cocok digunakan sebagai target pembelajaran?
  2. Apa perbedaan vulnerability scanning dengan pengujian manual?
  3. Mengapa aplikasi yang memiliki vulnerability harus segera diperbaiki jika digunakan pada lingkungan produksi?

7. Pengujian SafeLine WAF

Lakukan pengujian terhadap DVWA melalui SafeLine.

Akses aplikasi menggunakan URL yang telah dikonfigurasi pada Praktikum 4.

Lakukan pengujian normal terlebih dahulu.

Kemudian lakukan pengujian terhadap beberapa pola input yang telah dipelajari, seperti:

  • SQL Injection;
  • XSS;
  • Directory Traversal.

Amati apakah SafeLine:

  • mengizinkan request;
  • memblokir request;
  • menghasilkan event;
  • mencatat alamat IP;
  • mencatat waktu;
  • mencatat URL atau request yang dianggap berbahaya.

Catat hasil:

PengujianHasil RequestWAF ActionEvent
Normal RequestAllowedAllow........
SQL Injection........................
XSS........................
Directory Traversal........................

8. Analisis Hasil Assessment

Gabungkan hasil:

  1. Nmap;
  2. Nikto;
  3. DVWA;
  4. SafeLine;
  5. Wazuh.

Buat daftar temuan keamanan.

Contoh:

NoTemuanSumberSeverityBukti
1Port SSH terbukaNmapMediumScreenshot
2Web server information disclosureNiktoLowScreenshot
3SQL InjectionDVWAHighScreenshot
4XSSDVWAHighScreenshot
5Malicious request blockedSafeLineMediumScreenshot

9. Risk Assessment

Gunakan pendekatan sederhana:

Risk = Likelihood × Impact

Likelihood

NilaiKeterangan
1Unlikely
2Possible
3Likely

Impact

NilaiKeterangan
1Low
2Medium
3High

Risk Score

ScoreLevel
1–2Low
3–4Medium
6–9High

Contoh:

SQL Injection
Likelihood = 3
Impact = 3

Risk = 3 × 3 = 9
Risk Level = High

Kemudian lakukan penilaian terhadap minimal 5 temuan.


10. Menentukan Prioritas Mitigasi

Berdasarkan hasil risk assessment, tentukan prioritas perbaikan.

Gunakan format:

PrioritasTemuanRiskRekomendasi
1........High........
2........High........
3........Medium........
4........Medium........
5........Low........

Pertimbangkan:

  • tingkat risiko;
  • kemungkinan eksploitasi;
  • dampak;
  • kemudahan mitigasi;
  • kebutuhan bisnis.

11. Verifikasi Mitigasi

Pilih minimal satu vulnerability untuk dilakukan perbaikan. Contoh tindakan:

  • menutup port yang tidak diperlukan;
  • mengubah konfigurasi service;
  • memperbarui software;
  • memperbaiki konfigurasi web;
  • mengaktifkan mekanisme keamanan;
  • memperbaiki input validation.

Setelah mitigasi, lakukan pengujian ulang.

Contoh:

nmap 192.168.56.10

Bandingkan:

Sebelum mitigasi

Port 8080 → open

Setelah mitigasi

Port 8080 → closed

Pertanyaan

  1. Apakah vulnerability berhasil dikurangi?
  2. Apakah ada dampak terhadap service?
  3. Apakah mitigasi menimbulkan masalah baru?
  4. Mengapa security testing perlu dilakukan kembali setelah mitigasi?

H. Studi Kasus

Kasus: Security Assessment Web Server

Sebuah organisasi memiliki web server internal dengan konfigurasi berikut:

Ubuntu Server
IP: 192.168.56.10

Service:
22/tcp SSH
80/tcp HTTP
3306/tcp MySQL
8080/tcp HTTP Alternate

Hasil assessment menunjukkan:

Temuan 1

Port 22 terbuka dan SSH dapat diakses dari jaringan laboratorium.

Temuan 2

Port 3306 terbuka dan database dapat diakses melalui jaringan.

Temuan 3

DVWA memiliki vulnerability SQL Injection.

Temuan 4

SafeLine berhasil mendeteksi dan memblokir sebagian request berbahaya.

Temuan 5

Wazuh mencatat beberapa event keamanan yang berkaitan dengan aktivitas pengujian.


Pertanyaan Studi Kasus

  1. Temuan mana yang memiliki risiko paling tinggi?
  2. Mengapa port database yang terbuka dapat menjadi masalah keamanan?
  3. Apakah port yang terbuka otomatis berarti vulnerability?
  4. Bagaimana hubungan antara vulnerability dan risk?
  5. Apa mitigasi yang dapat dilakukan untuk setiap temuan?
  6. Bagaimana SafeLine membantu mengurangi risiko serangan terhadap web application?
  7. Bagaimana Wazuh membantu proses monitoring setelah security testing?
  8. Mengapa hasil security assessment perlu didokumentasikan?
  9. Bagaimana cara melakukan verifikasi setelah mitigasi?

I. Tugas Praktikum

Mahasiswa melakukan Mini Security Assessment terhadap cyber range yang telah dibangun selama Praktikum 1–6.

1. Network Assessment

Lakukan:

  • host discovery;
  • port scanning;
  • service detection.

Gunakan Nmap.


2. Web Vulnerability Assessment

Lakukan:

  • web server scanning;
  • vulnerability identification;
  • pengujian terhadap DVWA.

Gunakan Nikto dan tools yang telah dipelajari.


3. WAF Assessment

Lakukan pengujian terhadap DVWA melalui SafeLine.

Identifikasi:

  • request yang diizinkan;
  • request yang diblokir;
  • security event;
  • informasi yang dicatat WAF.

4. Risk Assessment

Identifikasi minimal 5 temuan keamanan.

Untuk setiap temuan tentukan:

  • vulnerability;
  • sumber temuan;
  • likelihood;
  • impact;
  • risk score;
  • risk level;
  • rekomendasi mitigasi.

5. Verification

Pilih minimal 1 temuan dan lakukan:

  1. Identifikasi vulnerability.
  2. Dokumentasikan kondisi awal.
  3. Terapkan mitigasi.
  4. Lakukan pengujian ulang.
  5. Dokumentasikan kondisi setelah mitigasi.
  6. Bandingkan hasil sebelum dan sesudah mitigasi.

J. Laporan Praktikum

Laporan disusun dengan format:

  1. Tujuan Praktikum

  2. Dasar Teori

  3. Scope dan Rules of Engagement

    Tuliskan:

    • target;
    • IP address;
    • jaringan;
    • tools;
    • waktu pengujian;
    • batasan pengujian.
  4. Hasil Network Assessment

    Lampirkan hasil:

    • host discovery;
    • port scanning;
    • service detection.
  5. Hasil Vulnerability Assessment (Lampirkan hasil Nikto dan analisisnya).

  6. Hasil Security Testing (Dokumentasikan pengujian terhadap DVWA).

  7. Hasil Pengujian SafeLine

    Dokumentasikan:

    • request;
    • action WAF;
    • event;
    • screenshot.
  8. Risk Assessment

    Buat tabel:

    NoVulnerability/TemuanLikelihoodImpactRisk ScoreLevel
    1....................
    2....................
    3....................
    4....................
    5....................
  9. Rekomendasi Mitigasi -> Berikan rekomendasi untuk setiap temuan.

  10. Verification -> Tunjukkan perbandingan sebelum dan sesudah mitigasi.

  11. Kesimpulan

Jelaskan:

  • vulnerability utama yang ditemukan;
  • risiko terbesar;
  • mitigasi yang dilakukan;
  • hasil pengujian ulang;
  • pembelajaran yang diperoleh.

K. Rubrik Penilaian

KomponenBobot
Scope dan prosedur assessment10%
Network scanning menggunakan Nmap20%
Vulnerability assessment20%
Security testing DVWA15%
Analisis SafeLine/Wazuh10%
Risk assessment dan prioritas mitigasi15%
Laporan dan dokumentasi10%
Total100%

L. Penutup

Pada praktikum ini mahasiswa melakukan security assessment terhadap cyber range yang telah dibangun pada praktikum sebelumnya.

Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menjalankan tools seperti Nmap atau Nikto, tetapi juga harus mampu:

menemukan → memverifikasi → menganalisis → menilai risiko → memberikan mitigasi → melakukan pengujian ulang.

Kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari proses keamanan siber karena keamanan sistem tidak cukup hanya dengan memasang firewall, WAF, atau SIEM. Sistem juga perlu dinilai secara berkala untuk mengetahui apakah masih terdapat kelemahan yang dapat dimanfaatkan.

Catatan Etika: Seluruh aktivitas scanning dan security testing pada praktikum ini hanya boleh dilakukan terhadap sistem yang berada dalam scope laboratorium dan telah mendapatkan izin. Jangan melakukan scanning terhadap alamat IP, website, server, atau jaringan publik tanpa izin.